Monday, July 5, 2010

Nabi Ya’qub Memerangi Raja Saljam

Nabi Ya’qub adalah putra Nabi Ishaq yang merupakan utusan Allah untuk memimpin umatnya supaya menyembah kepada Allah di sebuah desa yang bernama Nabulis. Disanalah beliau sebagai petani yakni bercocok  tanam dan memelihara binatang ternak. Di negeri itu bertahtah seorang raja bernama “Saljam“. Pada suatu hari raja tersebut berziarah ke daerah Nabi Ya’qub, seketika juga raja terbengong keheranan karena didaerahnya berdiam penduduk yang tak dikenal. Lalu raja bertanya dengan sombongnya, siapakah yang memberi izin sehingga berani  bertempat tinggal di daerah kekuasaan raja Saljam.
Nabi Ya’qub menjawab dengan tenang, “Saya Ya’qub bin Ishaq dan saya tinggal disini atas izin Allah SWT. Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk mengajakmu masuk agama Allah, dengan iman kepadaNya. Jika engkau tidak mengabulkan seruanku untuk beriman kepada Allah dan engkau tidak mengakui juga akan kerasulanku, niscaya engkau akan kuperangi”.
Mendengar hal itu tiba-tiba wajah raja menjadi merah padam karena marah, dengan berkata, “Hai orang gila, apakah kamu berfikir waras? Dengan apa kamu memerangi saya? Sedangkan kamu tidak mempunyai bala tentara seorangpun.
Nabi Ya’qub menjawab, “Saya memerangimu dengan Allah dan malaikatNya serta anak-anakku yang banyak ini”. Setelah mendengar perkataan Nabi Ya’qub yang lancang itu, raja pun malah enggan diajak masuk agama Allah, bahkan ia semakin menjadi amarahnya. Selang beberapa hari sejak kejadian itu, terjadilah peperangan antara raja dengan keluarga Nabi Ya’qub.
Dalam peperangan itu, seorang putra Ya’qub yang bernama Syam’un berkata, “Wahai Nabiyyallah, seandainya engkau mengizinkan, pasti saya bertanggung jawab untuk meruntuhkan benteng pertahanan musuh itu, maka serahkanlah semua itu kepada saya”.
Nabi Ya’qub-pun menyerahkan tugas itu pada putranya. Kemudian Syam’un berangkat menuju pintu pertahanan musuh dan beliau berdo’a kepada Allah SWT , “Ya Allah, bukakanlah pintu ini bagi kami dengan mudah dan Engkaulah Yaa Allah sebaik-baik pemberi kemenangan. Dengan nama Allah selamatkanlah kami”.
Kemudian dihantamlah benteng itu dengan kakinya, seketika itu juga dinding benteng menjadi roboh dan banyaklah orang-orang yang mati tertimpa runtuhan itu dari kalangan musuhnya, sehingga mereka menjadi kebingungan dan kacau balau. Nabi Ya’qub bersama putra-putranya masuk ke benteng pertahanan musuh dan diperangilah raja yang sombong itu sampai dapat dikalahkan dan hartanya dijadikan harta rampasan perang. Setelah itu Nabi Ya’qub hijrah ke Palestina menemui ibunya yang bernama Laban. Bepergiannya ke Palestina dengan berjalan di waktu malam hari dan istirahat siang hari. Itulah sebabnya keluarga Nabi Ya’qub dan keturunannya dinamakan “Bani Israil“, yang artinya “Yang suka berjalan malam hari“.
Nabi Ya’qub beristri dua orang yang bersaudara kandung, namanya “Laya dan Rahil“. Semasa itu masih belum ada larangan dari Allah untuk mempoligamikan atau menikahi dua orang wanita bersaudara. Juga dua orang budak perempuan milik “Laya dan Rahil” diperistri juga oleh Nabi Ya’qub. Nabi Ya’qub dengan Laya menurunkan 4 anak yaitu: Rabil, Yahuda, Syam’un dan Lawi. Sedangkan dengan Rahil menurunkan 2 anak yaitu: Yusuf dan Bunyamin. Nabi Ya’qub dengan kedua hamba sahayanya masing-masing mempunyai 3 anak, yang satu melahirkan : Yasakha, Zabulun dan Dana. Sedang yang satunya lagi mempunyai anak bernama : Naftali, Kal dan Asyar. Dari mereka semua mempunyai keturunan yang banyak sekali sehingga disebut “Asbath“, yang artinya “Kabilah-kabilah bani israil“.
Setelah lanjut usia, Nabi Ya’qub hidup bersama Nabi Yusuf yang menjadi pembesar negeri Mesir dan disana pula Nabi Ya’qub wafat dalam usia 147 tahun. Demikian pula putra-putranya yang lain, sehingga turun temurun hidup di negeri Mesir. Ketika Nabi Ya’qub telah mendekati ajalnya, semua anak-anaknya dikumpulkan dan berwasiat sebagaimana firman Allah QS. Al-Baqarah ayat 133, yang artinya : Adakah engkau tahu Ya’qub hampir menjelang maut, ia berkata kepada anak-anaknya : “Apakah yang kamu sembah sepeninggalku nanti?”. Anak-anaknya menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu, yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yaitu kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan kami hanya kepadaNya berserah diri”.
Demikianlah wasiat Nabi Ya’qub kepada putra-putranya, yang oleh Allah dijadikan figur bagi manusia sesudahnya.

0 comments: