Thursday, February 28, 2013

SIRI TARBIAH 2 - UKHUWWAH ISLAMIYAH


MUQADDIMAH


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Maksudnya ;

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan daripada sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, dan janganlah sebahagian kamu mengupat sebahagian yang lain. Adakah seseorang daripada kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Jika begitu keadaan mengupat, sudah tentu kamu jijik kepadanya. Oleh itu patuhilah larangan Allah. Dan bertaqwalah, sesungguhnya Allah itu Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.

Ayat yang dibentangkan ini menjurus kepada pembinaan suatu unsure yang terpenting di dalam jamaah, iaitu unsur ukhuwwah Islamiyah.

UKHUWWAH ISLAMIYAH
Ukhuwwah adalah nikmat berharga yang dikurniakan oleh Allah kepada orang-orang beriman di dalam saf perjuangan. Ia tidak dapt dijualbeli dengan wang ringgit dan harta benda dunia. Ukhuwwah adalah suatu rasa yang diciptakan oleh Allah di dalam hati orang-orang yang beriman. Firman Allah :

لوأَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عزيز حَكِيمٌ- سورة الحجرات 63
Maksudnya:
Seandainya engkau belanjakan apa yang ada di bumi semuanya, tidaklah mampu engkau persatukan antara hati mereka, tetapi Allahlah yang telah mempersatukan antara mereka”
(Al Anfal: 63).


Demikian juga, jika Allah mengkehendaki untuk merapat dan memesrakan di antara hati-hati yang beriman itu, maka ukhuwwah pun diciptakan oleh Allah di dalam hati hamba-hamba-Nya yang beriman itu. Firman Allah :

إِنَّمَا الْمُوْْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ - سورة الحجرات -1 
Maksudnya : Sebenarnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu yang bertelagah. Bertaqwalah kamu kepada Allah agar kamu dirahmati oleh Allah
Dari ayat ini terlihat jelas bahwa ukhuwwah hanya terbina di atas dasar iman atau tauhid, bukan di atas ikatan-ikatan yang selain daripada itu. Justeru hanya Allah yang dapat menyatukan hati-hati di kalangan manusia, dan hati-hati manusia itu pula akan bersatu di atas landasan tauhid. Oleh itu, lafaz yang disebutkan di dalam ayat ini adalah mukmin, bukanlah hanya muslim sebagai syarat pembinaan ukhuwwah tersebut. Firman Allah :

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ (67
Maksudnya:“ Teman-teman akrab pada hari itu sebahagiannya menjadi musuh kepada sebagian yang lain, kecuali orang yang bertakwa”( Az Zukhruf: 67).
Jika ukhuwwah kosong dari iman maka yang menjadi ikatannya adalah kepentingan peribadi atau kelompok, parti dan sebagainya. Hal ini jelas cepat atau lambat akan menghancurkan nilai ukhuwwah itu sendiri. Sedangkan persahabatan yang tidak terikat dengan akar taqwa sudah tentu akan menghasilkan permusuhan dan kebencian, seperti yang terjadi pada awal terjadinya konflik dalam sejarah manusia, persaingan merebut harta rampasan (ghanimah) dan mengejar kepentingan dan keuntungan

Sabda Rasulullah SAW :

لاَ تَقَاطَعُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَحَاسَدُوْا ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ .
Maksudnya : Janganlah kamu memutuskan hubungan, jangan kamu tidak betegur sapa, jangan kamu saling benci membenci, jangan kamu saling berhasad dengki. Sebaliknya, jadilah kamu hambalah Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seseorang muslim itu tidak menegur saudaranya lebih daripada tiga hari.
Ukhuwwah adalah kekuatan yang bersumber dari iman atau aqidah yang melahirkan perasaan spiritual berupa kasih sayang, kecintaan, kemuliaan dan rasa percaya dan mendahulukan kepentingan kepada saudara seaqidah. Dan darinya akan timbul sikap tolong menolong, mengutamakan orang lain, rasa saying, pemaaf, pemurah, setia kawan dan sikap-sikap mulia lainnya. Maka jelaslah bahwa ukhuwwah Islamiyah adalah sifat yang menyatu dengan iman dan taqwa. Kedua komponen ini tidak dapat dipisahkan di antara satu sama lainnya.


SANGKAAN BURUK MENAFIKAN UKHUWWAH
Sangkaan buruk terhadap sahabat di dalam bermasyarakat dan berjamaah adalah terlarang di dalam agama. Sangkaan buruk yang ditegah di dalam Islam ialah pada perkara yang tidak ada tanda-tanda dan bukti yang jelas dilakukan oleh seseorang. Hukumnya jelas haram dan wajib dijauhkan. Seperti sabda Rasulullah SAW :

إن الله تعالى حرّم من المسلم دمه وعرضه وأن يظنّ به ظنّ السوء
Maksudnya : Sesungguhnya Allah SAW telah mengharamkan terhadap seseorang muslim itu darah dan maruahnya (dengan maksud haram ke atas seorang muslim menumpahkan darah seorang muslim yang lain, juga menjatuhkan maruahnya), dan diharamkan juga berburuk sangka terhadapnya.

Tetapi terhadap orang yang jelas-jelas melakukan perkara yang terlarang, tiada lagi perhormatan terhadap dirinya. Kata Al-Hasan : لا حرمة لفاجرMaksudnya : Tiada penghormatan terhadap orang yang jelas-jelas melanggar larangan Allah.

WAJIB MENJAGA MARUAH
Di dalam kehidupan bermasyarakat dan berjamaah, mencari kesalahan orang lain adalah ditegah oleh agama, sehinggalah perkara yang menjadi keaiban seseorang itu, dizahirkan oleh Allah dan menjadi perkara yang diketahui oleh umum. Untuk itu, seorang muslim adalah wajib menjaga maruah dirinya daripada jatuh ke dalam kancah kata nista yang ditujukan kepadanya. Adalah suatu yang wajar, kita sebagai anggota jamaah, hendaklah mengelakkan diri daripada tempat-tempat dan keadaan-keadaan yang boleh mengundang fitnah dan tohmahan orang terhadap kita. Seseorang yang meletakkan dirinya ditempat yang mewajarkan dirinya ditohmah oleh orang, apabila ia ditohmah dan difitnahkan, ia tidak patut menyalahkan orang lain lagi, selain ia menyalahkan dirinya sendiri. Seperti kata asthar : من وقف موقف تهمة فلا يلومن من أساء الظن به

Maksudnya :
Siapa yang berada di tempat yang boleh menimbulkan tohmahan orang terhadapnya, maka ia jangan mencela, andai ada orang yang berburuk sangka kepadanya.

SYARAT-SYARAT PEMBINAAN UKHUWWAH
1. Ikhlas.
Ukhuwwah Islamiyah akan terlaksana bilamana setiap muslim mampu membebaskan diri dari kepentingan-kepentingan peribadi, kelompok, kumpulan dan golongan, dan hanya menjadikan Allah Ta’ala semata-mata sebagai tujuan. Sehingga landasan yang dipakai dalam berjuang adalah landasan Islam.
2. Dilandasi dengan (Al Wala) dan Berlepas diri (Al-Baro’), yang dibingkaikan dengan Al Qur’an dan Sunnah.
Tidak dapat disangkal lagi bahwa ukhuwwah Islamiyah hanya akan terwujud di antara orang-orang beriman dan bertaqwa. Ertinya seorang muslim hanya mengambil mukmin dan muttaqin menjadi temannya. “ Ukhuwwah Islamiyah yang dibentuk dari pribadi mukmin dan muttaqin ikatannya sangat kuat dan kukuh, tidak akan goyah meski badai fitnah melandanya karena mereka bersaudara berlandaskan ilmu dan aqidah/ keyakinan yang haq.
3. Tegak berasas nasihat karena Allah.
Seorang muslim seharusnya menjadi cermin bagi saudara mu’minnya yang lain. Ia akan sentiasa meningkatkan kebajikan, sebaliknya jika terdapat kekurangan pada diri saudaranya ia akan menasihatinya dengan cara yang baik dan menganjurkannya agar segera bertaubat kembali kepada petunjuk agama yang haq. Dengan demikian terjadilah tolong menolong yang penuh keberkahan jauh dari fanatisme. Sekaligus mendorong terbentuknya persaudaraan atas dasar Islam dengan neraca syariatNya. “ Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” ( Al ‘Ashr: 1-3).
4. Komitmen (Iltizam) dengan metode (Manhaj) pemahaman yang benar.
Hal ini akan terlaksana jika mereka-mereka yang bersaudara ini setia untuk tetap berhukum kepada hukum Allah dan mengembalikan semua masalah kepada Allah dan RasulNya. “...Jika kalian berbeza pendapat, maka kembalikanlah semuanya kepada Allah dan RasulNya jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (An Nisa: 59).


REALITI DALAM PERJUANGAN
Di dalam saf perjuangan, permasalahan kewangan dan kesempitan hidup yang dihadapi oleh sahabat wajar diberi perhatian. Takaful yang menjadi salah satu daripada rukun usrah, di antara yang dititikberatkan ialah permasalahan kewangan sahabat.

Hak harta di dalam katogeri ini terbahagi kepada tiga peringkat.
Pertama:
Ini adalah peringkat yang paling rendah, iaitu kita memenuhi hajat dan keperluan sahabat dengan menggunakan peruntukan yang lebih daripada peruntukan untuk diri kita sendiri.
Kedua:
Harta kita dibahagi dua dengan sahabat.
Ketiga:
Peringkat yang paling tinggi, iaitu kita mengutamakan sahabat kita melebihi diri kita sendiri.

PENUTUP
Semoga perjuangan Islam yang sedang kita gerakkan pada hari ini akan tetap terus bersemarak dan di dalam era mempertahankan kemenangan ini, dengan berkat semangat setia kawan dan ukhuwwah Islamiyyah yang teguh, seperti yang pernah menjadi realiti kepada generasi salafusaleh sebelum kita, amin.

Oleh : Media Ulamak 

Read more

Wednesday, February 27, 2013

SIRI TARBIAH 1 - MUHASABAH PERJUANGAN


MUHASABAH PERJUANGAN

MUQADDIMAH
Firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ (38) إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (39)3
Maksudnya :
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu, apabila dikatakan kepada kamu: “Pergilah beramai-ramai untuk berperang pada jalan Allah”, kamu merasa keberatan (dan suka tinggal menikmati kesenangan) di tempat (masing-masing)? Adakah kamu lebih suka dengan kehidupan dunia daripada akhirat? (Kesukaaan kamun itu salah) kerana kesenangan hidup ini hanya sedikit jua berbanding dengan (kesenangan hidup) di akhirat kelak.Jika kamu tidak keluar beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah membela agama-Nya, Allah akan menyeksa kamu dengan azab seksa yang tidak terperi sakitnya, dan Ia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memudharatkan Allah sedikit pun. Dan ingatlah Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. ( At-Taubah:38-39)

PERASAAN PERLU KEPADA ALLAH
Bila kita memahami dan menghayati bahawa Allah ada orang lain yang akan dipilih untuk memperjuangkan Islam ini, seandainya kita tidak mahu berjuang, terasa kuatlah hati dan perasaan kita menggantungkan segala pengharapan kita, agar kita terus dipilih oleh-Nya. Perasaan bergantung kepada Allah ini akan melenyapkan semangat dan kecintaan kita kepada dunia, cinta kepada kedudukan dan nama, mendambakan perhatian manusia kepada kita dan sebagainya lagi. Sesungguhnya kita amat mengimani, bahawa kita tidak dapat memastikan usia kita akan kekal lama seperti yang kita harapkan. Kita bakal mati bila sudah tiba waktu dan masanya. Perasaan bergantung kepada Allah ini, akan mencetuskan di dalam diri kita hanya ‘mahu kepada Allah’,dan mendorong kita untuk terus berkerja, berkhidmat dan berbakti kepada Allah, di jalan yang mulia ini.

AWASI PERMASALAHAN FUTUR
Perjuangan Islam yang sedang kita gerakan ke arah kemenangannya ini amat memerlukan kita sentiasa berkomitmen dengan program-program jamaah. Marhalah jihad yang kita patut berada dewasa ini, selaku kepimpinan tinggi jamaah ialah jihad yang sentiasa berterusan, tidak mengenal erti lemah, letih, tidak bersemangat dan sebagainya.
Adalah suatu yang pelik, seorang muslim yang sudah merasai kemanisan iman dan memahami Islam yang sebenarnya, tetapi sanggup lari daripadamedan amal ke arah memenangkan Islam. Seorang yang memahami hakikat Islam yang sebenarnya, tidak dapat hidup tanpa Islam yang diperjuangkannya. Seorang yang jelas fikrahnya mengenai Islam, akan sentiasa mencari-cari ruang dan kesempatan untuk menyuburkan iman dan semangatnya untuk menyemarakkan kerjanya di dalam perjuangan, di samping memperbetulkan kesalahan dan kesilapannya di sepanjang kehidupannya di dalam perjuangan.
Seorang yang menghadapi permasalahan ini futur, akan merasa jemu dan tidak bersemangat untuk menghadiri program-program jamaah. Seorang yang berada di dalam reality ini akan berada di antara dua persimpangan. Sama ada akan terus tenggelam dalam reality terus future dan terpengaruh dengan suasana persekitarannya sehingga terus tidak menghadiri program atau ia diselamatkan oleh Allah melalui sebab-sebab yang dikehendaki oleh Allah seperti diperingatkan dan ditazkirahkan oleh sahabat seperjuangan dan sebagainya.

PERMASALAHAN KELESUAN KINI
Krisis kelesuan yang melanda sesebuah gerakan adalah berpunca daripada petugas-petugasnya yang lesu, lemah dan tidak bersemangat, serta tidak bertenaga untuk menggerakkan kerja, sehingga terkadang petugas-petugas gerakan terus jatuh, bahkan terus meninggalkan kerja-kerja perjuangan.
Kelesuan jamaah adalah berpunca daripada:
i) Sebab yang melibatkan jamaah
ii) Sebab yang melibatkan individu

i) Sebab Yang Melibatkan Jamaah

a- Lemahnya di sudut tarbiyyah
Berkata al-Ustaz Fathi Yakan :
Sudut tarbiyyah terkadang diletakkan di dalam sudut yang cukup terbatas, sedangkan sudut-sudut lain di dalam jamaah seperti sudut pengurusan jamaah (pejabat), tanzim dan siasah diberi perhatian yang cukup serius. Gerakan yang lemah kemampuannya di dalam mentarbiah akan mengakibatkan kesannya kembali kepada gerakan itu sendiri. Kecergasan tarbiah hendaklah terus berjalan dan tidak terputus sekalipun di dalam waktu yang cukup kritikal dan keadaan yang genting. Mengikat anggota jamaah hendaklah di atas ‘hubungan dengan Allah dan Islam’. Harakah dan tanzim hanyalah sebagai wasilah, ia bukan matlamat.

b-Tidak meletakkan individu tertentu sesuai ditempatnya
Ia adalah di antara factor yang akan melemahkan sesebuah harakah dan dikira faktor yang sangat membahayakan jamaah. Sesungguhnya kejayaan sesebuah harakah pada menugaskan anggota dan petugasnya dan diletakkan pada tempatnya yang sesuai adalah permulaan kepada kejayaan dan peningkatan mutu jamaah. Harakah Islamiyyah terkadang tidak kurang dan kaya dengan tenaga dan perugasnya. Namun, apabila tenaga-tenaga itu tidak digarapkan sepenuhnya atau tidak diletakkan di tempat yang tidak sesuai, maka jamaah sekali lagi akan tersasar dalam menuju matlamatnya.

c- Tidak membuat ‘follow up’ terhadap pertugas
Ini juga adalah factor yang akan membawa jamaah kepada krisis kelesuannya. ‘Follow up’ yang kita maksudkan ialah yang dibuat dalam bentuk :
- Tanzim (organisasi)
- Ukhuwwah

ii) Sebab Yang melibatkan Individu
Sebahagian sebab yang berpunca daripada individu ialah :
a) Tabiat tidak berdisiplin
b) Permasalahan yang berpunca daripada sumber makanan dan mata pencarian
c) Bersikap meringan-ringankan kerja jamaah

RENUNGAN TERHADAP SURAH AL-ASR
Mempraktikkan pengajaran daripada surah al-Asr, khususnya terhadap penjagaan masa, seringkali diabaikan oleh sesetengah anggota jamaah. Adalah lebih malang, apabila penjagan masa itu seringkali diabaikan oleh pemegang-pemegang amanah penting di dalam jamaah. Tiada gunanya apabila surah yang seringkali dibaca oleh kita pada setiap kali kita menamatkan majlis itu, terus kita baca, tetapi untuk kita tidak mempraktikkan pengajarannya.
PENUTUP
Semoga jamaah yang sedang kita gerakkan menuju ke gerbang jaya ini akan terus dilimpahi kebasemakin rakahannya, demi bangun satu kekuatan baru, pada suatu era yang ummah sangat mendambakan cahaya penyelamat bagi melepaskan mereka dari kezaliman yang sudah semakin serakah mencengkam kebebasan dan hak yang hilang.
Read more

Sunday, December 30, 2012

DARI TANGAN MEREKA PALESTIN DIBEBASKAN


Pada tahun 636 M seramai 41’000 tentera Islam yang dipimpin oleh Khalid al Walid, berjaya menewaskan 70’000 tentera Rom yang terkenal dengan kelengkapan artileri. Kekalahan tentera Rom pada waktu itu yang dikenali dalam perang Yarmouk, telah membuka peluang kepada umat Islam menguasai Baitul Maqdis.

Kerajaan Rom ingin menamatkan penjajahan mereka di Timur Tengah dengan menyerahkan Kota Al Quds kepada umat Islam. Bagaimanapun, Patriarch Sophronius seorang uskup gereja di Al Quds berkeras dan enggan menyerahkan Baitul Maqdis kepada umat Islam kecuali Amirul Mukminin, Umar Al Khattab datang sendiri menemui rakyat Illiya’ dan mengambil kunci dari tangannya sendiri. Di sinilah hikayat agung pembukaan Kota Al Quds yang diukir Sahabat Rasulullah S.A.W yang digelar Al Faruq, Umar al Khattab.

Setelah bermesyuarat, Umar-pun berangkat dari Madinah ke Palestin dengan hanya menaiki seekor unta dan ditemani oleh seorang khadamnya sahaja.

Menurut riwayat, Umar dan khadamnya bergilir-gilir menaiki unta. Jika Umar menaiki unta, maka khadamnya yang akan memandu pedati unta tersebut. Manakala jika khadamnya naik unta, Umar pula yang akan berjalan menjadi pemandu permusafiran itu. Setiap kali giliran dilakukan, mereka akan membaca surah Yassin sehingga tamat. Itulah yang dilakukan oleh Umar dan khadamnya sehingga tiba di Kota al Quds.
                                   
Apabila Kota al Quds semakin dekat, khadamnya memesan agar Umar terus mengambil kedudukan di atas pelana unta, sementara dia yang akan memandu unta tersebut. Tetapi Umar melarang dan mengarahkannya agar terus mengikut tempoh gantian yang telah disyaratkan sejak berada di Madinah. Dan kebetulan saat mereka berdua hampir ke gerbang Kota Al Quds, ia adalah giliran Umar memandu unta tersebut. Saat itu rakyat Illiya’ yang majoritinya beragama Nasrani memenuhi Jerusalem. Mata mereka tertumpu kepada seorang pemimpin yang tidak pernah mereka lihat sepanjang sejarah.

Lazimnya penguasa-penguasa Rom akan membawa bala tentera dan sejumlah kebanggaan di raja, permaisuri dan gundik-gundik yang sudah menjadi kemestian mereka. Tetapi Umar sebagai khalifah Islam, yang berjaya mengurus tenteranya menundukkan Rom, datang dengan baju yang lusuh dan bertampal, manakala kedua-dua kakinya dipenuhi debu pasir.

Pembesar-pembesar Kristian terpegun melihat kerendahan Umar sekalipun kuasa pemerintahan terbuka luas di tangannya. Mereka semua mengandaikan Umar akan tiba dengan satu rombongan yang besar, sehebat reputasi kerajaan dan namanya, sebaliknya Umar hanya ditemani oleh seorang khadam dan unta yang dipandunya Umar sendiri.

Mereka merasakan perbezaan yang sangat ketara antara peribadi Khalifah Umar dengan semua Raja Kaisar yang pernah menakluk Jerusalem sebelum ini. Lalu seluruh rakyat Iliya’ di Kota Al Quds itu memberikan penghormatan kepada Umar sambil menundukkan kepala. Kemudian Umar berteriak keras, “Angkat kepala kalian sesungguhnya kamu tidak perlu menundukkan kepala (sujud) seperti ini kecuali kepada Tuhan”.

Terpegun Sophronius melihat kesederhanaan Khalifah, lalu dia berkata, ”Jika beginilah pemimpin Islam, sesungguhnya kerajaan kamu (Umar) tidak akan tewas”.

Khalifah Umar kemudiannya menerima penyerahan kunci kota suci itu secara rasmi dari Sophronius. Kemudian Umar mengikat jaminan aman kepada penganut Kristian Iliya’ yang ingin tetap tinggal di Jerusalem.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. Inilah perdamaian yang diberikan oleh hamba Allah Umar, Pemimpin Negara Islam kepada rakyat Iliya'. Islam menjamin keamanan rakyat Iliya’, keselamatan harta benda , gereja-gereja, salib-salib, mereka yang sakit mahupun yang sihat dan seluruh keyakinan aliran agama mereka. Tidak boleh mencerobohi gereja mereka mahupun memusnahkan, mengurangi (melakukan rampasan) mahupun menghilangkan sama sekali…”

Genap 10 hari Saidina Umar bersama tentera-tentera Islam yang kemudiannya masuk ke Kota al Quds dengan aman. Kejayaan tersebut diraikan dengan doa kesyukuran kepada Allah Taala. Sewaktu berdoa, Umar tiba-tiba menangis.

Lalu salah seorang bertanya kepada Umar, “Wahai Umar adakah kamu menangis kerana kemenangan ini?”

“Iya, aku menangisi kemenangan ini. Aku teringatkan Baginda Nabi S.A.W pernah bersabda… - Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khuatirkan terhadap diri kalian. Tetapi yang aku khuatirkan adalah kesenangan dunia yang dibentangkan pada kalian sebagaimana diperolehi oleh orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian semua saling pintas-memintas untuk mendapatkannya sebagaimana mereka, sehinggalah harta tersebut membinasakan kalian seperti mereka dibinasakan...” [ Sahih Muslim ]

Setelah itu, Umar kembali bersama khadamnya menuju semula ke Madinah. Datang dan perginya Khalifah Umar, hanya berperawakan seperti musafir biasa dan rakyat jelata. Inilah sifat peribadi tokoh yang mampu membebaskan Palestin, mereka adalah orang yang zuhud (memanfaatkan dunia seadanya, tidak melampau atau berlebih-lebihan) dalam semua perkara.

Kisah Sultan Salahuddin Al Ayyubi

“…This is what the Lord Almighty says, ‘I will punish the Amalekites for what they did to Israel when they waylaid them as they came up from Egypt. Now go, attack the Amalekites anda totally destroy everything that belongs to them. Do not spare them; put to death men and women, children an infants, cattle and sheep, camels and donkeys’.” – Samuel I 15:3, International Version

Berikut adalah paragraf Bible yang diimani para tentera Salibiyyah ketika melumatkan penduduk Islam di Palestin pada 7 Jun 1099 M (493 H). Amalekites ataupun disebut ‘Amlaaq’ di dalam bahasa Arab, disifatkan sebagai golongan anti-Semitism. Mereka yang menanggung gelaran itu berhak dirampas haknya, dirosakkan bangunan dan penginapannya serta segala harta milik kaum Muslimin terutamanya dihancurkan, tidak kira samada mereka itu lelaki, wanita, kanak-kanak mahupun warga emas. Semuanya dibelasah, dibantai dengan jiwa rakus penuh kekejaman.

Ketika perang Salibiyah berlaku pada tahun tersebut, diangggarkan 40’000 kaum Muslimin yang terbunuh, dan dengan megah Godfrey of Bouillon menegakkan Ordo Sion di bumi Palestin. Peranan yang dimainkan Godfrey telah berhasil mengangkat adiknya, Baldwin I sebagai Raja Jerusalem pertama setelah rampasan kota suci tersebut dari tangan Muslim. Berita kemenangan Godfrey itu dikhabarkan sehingga mereka terpaksa merenangi lautan darah apabila deretan gelumang mayat umat Islam dibunuh setinggi kaki kuda.

Keserakahan Salibiyyah di bumi Palestin kemudiannya dihentikan oleh Salahuddin Al Ayyubi (1169-1193 M) pada 583 H di dalam peperangan Hittin. Tentera Salibiyyah yang dibidak Guy The Lusignan dan Reynald The Chatillon mengalami kekalahan teruk dan sangat memalukan.

Namun, apa yang yang dilakukan oleh Salahuddin Al Ayyubi sangat berbeza dengan apa yang pernah dilakukan oleh Godfrey, peristiwa pembantaiannya terhadap penduduk Palestin 90 tahun sebelum ini. Setelah Jerusalem berjaya ditawan tentera Islam, Salahuddin diancam oleh Balian, Baron of Ibelin yang telah kalah dalam pertempuran itu untuk membunuh keluarga mereka sendiri, haiwan ternakan, membunuh 5’000 orang Islam yang ditawan, meruntuhkan kubah batu (Doom of the rock) dan juga Masjidil Aqsa.

Setelah Salahuddin mendengar hujjah dungu kekalahan Balian, seraya beliau bertanya kepadanya, “Adakah kaum wanita, kanak-kanak yang tidak berdaya hendak juga kamu bunuh?!!”
Mengingatkan ancaman Balian itu, Salahuddin Al Ayyubi menawarkan kepada orang-orang Kristian di Palestin, “Jika tentera Salib menyerah, mereka dan seluruh keluarga termasuklah harta-harta mereka boleh meninggalkan Jerusalem dalam tempoh masa 40 hari”. 

Hal itu mengejutkan Balian, walaupun sebelum ini tentera Salibiyyah yang pernah dipimpin Godfrey membunuh puluhan ribu orang Islam setelah berjaya merampas Palestin, tetapi Salahuddin tetap memberikan peluang kepada tebusan-tebusannya tanpa menaruh rasa dendam untuk membalas perbuatan Godfrey.

Salahuddin memberi peluang membebaskan mereka dengan wang tebusan bagi seorang lelaki sebanyak 10 dinar, wanita 5 dinar dan kanak-kanak 1 dinar. Wang tebusan itu adalah harga kemerdekaan yang paling murah pernah dilakukan, malah Salahuddin menetapkan bahawa seluruh jumlah wang tersebut akan digunakan untuk membangunkan semula Jerusalem yang telah musnah. Lalu berbondonglah para bangsawan dan panglima tentera Salib keluar dari Jerusalem, mereka keluar dari kota itu tanpa mempedulikan nasib yang menimpa kepada para pengikut mereka sebelum ini yang tidak mampu membayar wang tersebut walau dengan jumlah 1 dinar.

Apabila Salahuddin Al Ayyubi mengetahui masih ada yang tidak mampu membayar dengan jumlah yang ditawarkan itu, maka Salahuddin kembali mengumumkan bahawa sesiapa yang miskin akan dibebaskan tanpa bayaran. Keluarlah mereka beramai-ramai dari pintu St. Lazarus dari pagi sehingga ke malam bersaksikan keadilan yang dimiliki oleh Sultan yang beragama Islam itu.

Keluhuran akhlak dan kecintaan Salahuddin Al Ayyubi kepada kedamaian begitu mendalam walaupun beliau sendiri merupakan panglima perang, tetapi jalan peperangan bukanlah jalan yang ditagih, sebaliknya perang dilakukan adalah kerana cintanya untuk mempertahankan Islam.

Di Mesir, Salahuddin membina sebuah benteng tebal yang kukuh dan panjangnya lebih dari satu kilometer. Di Dimashq, beliau telah mendirikan rumah pemeliharaan bagi orang-orang miskin. Demikian juga di Sudan, Yaman dan lain-lain negara yang pernah ditadbirnya terdapat banyak bangunan kebajikan untuk rakyat. Tetapi ketika akhir hayat Salahuddin, sultan yang pernah mengepalai negara dari Syam sehingga ke Afrika itu hanya meninggalkan 1 dinar dan 36 dirham. Tiada sebutirpun emas, sebidang kebun atau tanah yang mampu diwariskannya. Sehinggakan peruntukan untuk membeli kain kafan-pun merupakan hasil sumbangan menteri kerajaannya. Ternyata Panglima besar ini, Salahuddin tidak memikirkan sama sekali harta untuk dirinya. Semua tenaga dan harta miliknya  dicurahkan untuk perjuangan di jalan Allah semata-mata.
                                          

Kisah Sultan Saifuddin Qutuz

Sejarah kembalinya Palestin ke tangan orang Islam diteroka dan ditinjau, sebenarnya diteraju oleh pemimpin yang terdiri dari orang yang terlebih dahulu berjaya membebaskan dirinya dari penghambaan kepada nafsu mahupun mana-mana perkara yang tidak selayaknya disembah melainkan Allah Taala. Ini kerana, bagaimana kita mampu menewaskan musuh yang nyata sekiranya kita sendiri kalah dengan musuh yang menghuni diri kita sendiri. Demikian itu, kita saksikan hari ini di Palestin, Israel terus menggasak kerana percaya bahawa umumnya dunia Islam masih belum berhijrah memperbaiki diri dan mudah diperbudakkan ibarat lembu yang dicucuk hidungnya.

“Perbaiki cela yang ada pada diri, baharulah kamu mampu memperbaiki cela orang lain...”; Inilah rumus kemenangan umat Islam ke atas tentera-tentera anak cucu Genghiz Khan (tentera Tatar) di Ayn Jalut, Palestin. Ketika seluruh peta Islam jatuh ke pesta pembunuhan yang dilakukan tentera-tentera Tatar, Sultan Saifuddin Qutuz telah berjaya menewaskan mereka yang kelaparan darah para mujahidin.

Apakah kaedah yang digunakan oleh Qutuz?

Sebelum Qutuz membawa bala tenteranya ke medan perang, beliau terlebih dahulu menyisihkan pemimpin yang korup dan memerangi penguasa umat Islam yang kecundang dengan nafsu.
Qutuz pernah melaungkan kata-katanya kepada penguasa yang bertuankan hawa nafsu, “Wahai pemimpin umat Islam! Kamu diberi gaji dari baitul maal sedangkan kamu benci untuk berperang, kamu tidak mempertahankan maruah Islam! Aku ingin berhadapan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam keadaan mempertahankan agama, maka sesiapa di antara kamu memilih untuk berjihad, temani aku. Dan sesiapa memilih untuk enggan berjihad, pulanglah ke rumah. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan dosa kehormatan Muslimin yang akan ditanggungnya oleh orang yang tidak turut  berjihad...”.

Dari hal itu, Qutuz telah mendahulukan harta kerajaan untuk diinfaqkan ke medan jihad, sebelum meminta kerahan hasil baitul maal dan harta rakyat jelata disumbangkan.

Qutuz turut melakukan pengislahan terhadap politik negara yang ketika itu tidak stabil dengan ketamakan dan perebutan kuasa yang berlaku di antara penyokong Turansyah (cucu Al Marhum Sultan Salahuddin Al Ayyubi), penyokong Syajaratud Durr, penyokong Sultan An Nasir Yusuf di Syam dan penyokong Sultan ‘Aizzudin Aibaq. Qutuz menghentikan permusuhan yang berlaku antara Mamluk Bahriyyah dan Mamluk Mu’izziah, serta mengeratkan hubungan Mesir dan Syam yang sebelum ini tegang dengan persengketaan di antara ‘kem’ Ayyubiyah dengan ‘kem’ Mamluk. Orang-orang Ayyubiyah menganggap orang Mamluk tidak berhak memerintah Mesir kerana mereka dari golongan hamba.

Qutuz turut menjernihkan perbalahan antara penyokong Khawarizmiyyah dengan penyokong Abbasiyyah yang pernah dihangatkan dengan api permusuhan doktrin dan aliran.

Qutuz juga meninggikan institusi ulama’ sebagai organisasi tertinggi di dalam kerajaannya, di mana Sultanul Ulama’ Sheikh ‘Izziddin Abd Salam dijadikan penasihatnya dalam semua keputusan kerajaannya. Demikian itu, baharulah Allah Taala memberikan kemenangan kepada Qutuz di Ayn Jalut, bertepatan dengan syarat kemenangan-Nya :


“...Setelah mereka campakkan (benda-benda itu), Nabi Musa berkata:” Apa yang kamu datangkan itu, itulah sihir; Sesungguhnya Allah akan membatalkan (kemenangan), adapun Allah tidak akan memberikan kebaikan (kemenangan) kepada orang-orang yang melakukan kerosakan. Dan Allah akan mengukuhkan kebenaran dengan ketetapanNya, walaupun orang-orang yang membuat dosa tidak menyukai” - Surah Yunus:81, al Quranul Karim
Allah akan membatalkan kemenangan dan memberikan kepalsuan kepada orang yang melakukan kerosakan. Dan kemenangan dari Allah hanya akan diberi bila syarat-syarat telah terpenuhi apabila syariat-Nya dijaga.
SUMBER : TARBAWI
Read more

Monday, November 21, 2011

Ulama dan Kedudukanya dalam Islam

Konsep ulama’ boleh ditakrif dengan berbagai definisi yang berlandaskan latar belakang kesarjanaan atau disiplin ilmu masing-masing. Perkataan ulama’ itu adalah kata jamak dari perkataan Arab iaitu 'alim (orang yang berilmu). Kemudian lahir pula perkataan 'Alamah iaitu orang yang benar-benar mengerti atau mengetahui dengan mendalam hakikat sesuatu. Menurut Dato' Dr. Harun Din, dalam Al Quran Karim terdapat dua kali sahaja perkataan ulama’ itu digunakan. Kedua-duanya merujuk kepada yang mendalami pengetahuan agama. Yang mendalami agama Islam diistilahkan dengan al ulama’.

Ada alif dan lam (AL ULAMA'). Ini bererti bahawa ulama’ adalah istilah khusus yang dimaklumi bahawa hanya diguna-pakai untuk yang mengetahui dan mendalami tentang agama Islam sahaja. Di dalam bahasa Arab ada banyak istilah selain ulama’ yang diguna bagi merujuk kepada bidang masing-masing. Contohnya (khabir atau khubara' untuk pakar yang lain dari bidang agama), Muhtarif atau muhtarifun, Fanni atau fanniyyun yang merujuk kepada technician, Muhandis arkitek, Tabib pakar perubatan.
Seperkara lain yang patut disebut bahawa perkataan ulama’ ialah perkataan jama'. Kalau untuk seorang disebut ‘alim mufrad. Akan tetapi sudah menjadi penggunaan yang menyeluruh dipakai ulama’ untuk merujuk kepada seorang seperti Imam Syafie adalah ulama’ terbilang. Dibolehkan demikian kerana hakikatnya seorang ‘alim dalam Islam memiliki dan mendalami berbagai bidang ilmu, ilmu bahasa Arab dengan segala cabangnya ilmu al-qawafi, badi', ma’ani, bayan, nahu saraf, usul feqh, ulum hadis, hadis, tafsir, ulum tafsir, ilmu al-adab al-arabi, arud, tarikh, mantiq, al-falsafah dan berbagai ilmu.
Nizam Sakamat Sakjeha merumuskan pengertian ulama’ pada tanggapan masyarakat umum adalah mereka yang amat ikhlas dalam melaksanakan tuntutan Al Quran dan As Sunnah. Amat prihatin dan berusaha keras untuk menegakkan yang hak dan memerangi kebatilan, mereka adalah orang yang tidak mungkin tenggelam dalam hawa nafsu.( Nizam Sakamat Sakjeha Nasaih wa Taujihat al-Mufakkirin wa Ulama’ al-Islam lil jamaat wal ahzab al-Islamiah:4).
Secara estimologinya, ulama’ membawa maksud "orang yang mengerti atau orang yang berilmu pengetahuan", iaitu mengetahui hakikat sesuatu dengan penuh keyakinan. Maka istilah ulama’ disandarkan kepada individu yang mengetahui mengenai Al Quran dan As Sunnah serta memahami kedudukan hukum dan sum ber hukum Islam yang berpandukan kepada sumber tersebut.
Mahyuddin Haji Yahya menyebut di dalam Encyclopedia Sejarah Islam, para ulama’ ialah golongan penting kerana mereka merupakan pakar dalam bidang agama khususnya dalam bidang tafsir, feqah, hadis, usuluddin dan segala cabang ilmu Islam.
Al Imam Abi Al-Qasim Jara’ Allah Mahmud Umar bin Muhammad Al Zamakhsyari, ulama’ ialah mereka yang mengetahui mengenai sifat Allah, keadilannya, ketauhidannya, sifat yang harus dan yang tidak harus ke atas-Nya, maka mereka kekuasaanya. Orang yang ilmunya bertambah maka bertambah takut ia kepada Allah Taala.
Menurut Syed Qutb pula, ulama’ ialah mereka yang mengkaji Al Quran yang penuh kemukjizatan dan mereka yang mengenal Allah dan mengetahui hakikat Allah, mengetahui kesan penciptaan Allah, mengetahui kesan kekuasaan Allah, dan bertaqwa kepada Allah, dan menyembah Allah dengan sebenar penyembahan. Ulama’ ialah orang yang mengetahui sifat Allah dan kebesarannya. Siapa yang bertambah ilmuya maka ia bertambah takut kepada Allah.
Prof. Dr. H. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Orang yang takut kepada Allah ialah orang-orang yang berilmu. Berdasarkan kepada ayat Fatir: 28. Di pangkal ayat Allah menggunkana perkataan "Innama". Menurut ahli nahu bahawa huruf "innama" itu ialah adaatu hasr yang ertinya "alat untuk membatas". Sebab itu ertinya yang tepat dan jitu ialah " hanya orang-orang yang berilmu jua yang akan merasa takut kepada Allah. Kerana kalau tidak ada ilmu tidaklah orang akan takut kepada Allah. Kerana timbulnya satu ilmu setelah diselidiki. Maka jelaslah bahawa pangkal ayat tadi Allah telah berfirman "tidakkah engkau lihat" maka kalau tidak dilihat tidaklah akan tahu. Kalau sudah dilihat dan diketahui dengan sendirinya akan mengertilah bagaimana kebesaran Allah, kekuatanya dan keagunganya, merasa dirinya kerdil di hadapan kekuasaan Allah, dengan ini akan menimbulkan takut. Kalau takut telah timbul nescaya timbullah ketundukan, lalu segala perintahnya dilaksanakan dan larangannya dihentikan.
Menurut Ibn Kathir, tidak lain orang yang merasa takut kepada Allah itu hanyalah ulama’ yang telah mencapai matlamat ma'rifat, iaitu mengenali Tuhan sebagai pemilik hasil kekuasaan-Nya dan kebesaran-Nya. Maha besar, maha kuasa, yang Maha Berilmu yang mempunyai sifat kesempurnaan dan yang mempunyai Asma' al-Husna. Apabila makrifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, ketakutan kepada-Nya bertambah besar dan bertambah banyak.
Imam Malik berkata, "ulama’ bukanlah kerana banyak menghafaz riwayat hadis, bahkan ilmu ialah NUR yang dinyalakan Tuhan dalam hati".
Menurut Imam As Syaukani, ulama’ ialah mereka yang takut kepada Allah dan mengetahui bahawa Allah berkuasa atas sesuatu. Dan ulama’ ini bukan mereka yang banyak menghafaz hadis tetapi mereka yang memiliki ilmu dan takut dengan Al­lah Taala.
Begitu juga Imam Al Qurtubi menyebut bahawa ulama’ ialah seorang yang takut kekuasaan Allah dan yakin Allah berkuasa membalas atas maksiat yang di lakukan. Daripada Ibn Abbas berkata, ulama’ ialah yang mengetahui tentang Tuhannya yang Rahman dan tidak syirik kepada Allah, dan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan memelihara peringatan Allah dan mengetahui bahawa semua yang dilakukan di bawah pengetahuannya.
Dari Ibn Abi 'Umrah dari 'Akrimah dari Ibn Abbas kata-nya, "ulama’ ialah orang alim yang mengenal Allah dan tidak syirik kepada-Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan dan memeli­hara wasiatnya".
Berkata Ahmad bin Saleh Al Misri dari Ibn Wahab dari Ma­lik katanya, “Sesungguhnya ‘alim ialah bukan orang yang banyak meriwayat ,sebenarnya alim ialah ilmu yang dimilikinya bercahaya. Allah menjadikan bercahaya dalam hatinya. Tetapi mereka takut ke­pada Allah bukan semata-mata banyak mengetahui riwayat (ilmu) Sebaliknya ia mengetahui kefarduan dan mengikut kitab sunnah dan apa yang dilakukan oleh Sahabat radhiallahuahum dan selepas dari mereka”.
Al Imam Al Maraghi ketika menafsirkan ayat dalam surah Al Fatir, “Ulama’ ialah orang yang takut azab Allah dengan banyak melakukan ketaatan kepada-Nya. Dengan ilmu yang mereka pelajari datanglah keyakinan, jika dibuat maksiat akan dibalas dengan seksa, demikian kalau dibuat baik maka mereka akan dibalas dengan syurga”.
Berkata Rabi' Bin Anas "Siapa yang tidak takut kepada Allah maka ia bukan ulama’" (Rujuk Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansari al-Qurtubi, juz 7:343-344 dalam tafsir-nya).
Dari Ibn Abi 'Umrah dari 'Akrimah dari Ibn Abbas kata-ny,a "ulama’ ialah orang alim yang mengenal Allah dan tidak syirik kepadanya dan mengharamkan apa yang diharamkan dan memelihara wasiatnya".
Imam Hassan Al Basri, “ulama’ ialah orang yang takut kepada Al­lah dan cenderung melakukan apa yang Allah suka dan menjauhkan apa yang Allah murka”.
Sheikh Abul Aziz Badri, ulama’ sebagai pewaris nabi iaitu yang menyambung kembali perjuangan dan dakwah Para Nabi. Ulama’ yang menjadi pewaris para nabi ialah ulama’ yang tidak takut kepada pemerintah yang zalim. Tidak takut kepada pihak yang kejam kerana kepatuhan mereka hanya kepada Allah SWT.
Ibnu Masud berkata ketakutan kepada Allah petanda seorang itu ‘alim. Yang berilmu bukanlah kerana ia banyak meriwayatkan hadis akan tetapi yang amat takut kepada Allah. Di tanya Saad bin Ibrahim siapakah yang paling alim di kalangan penduduk Madinah? Jawabnya, orang yang paling takut kepada Allah.
Ali Bin Abi Talib pernah berkata seorang ‘alim ialah seorang yag tidak pernah melakukan maksiat, tidak jemu mengingatkan dirinya dan manusia sekalian akan azab Allah SWT dan tidak membelakangi Al Quran.
KESIMPULANNYA
Secara umumnya perkataan ulama’ itu membawa satu pengertian yang luas, disandarkan kepada seorang yang memahami konsep agama secara syumul dan mendalam serta menzahirkanya dalam bentuk praktikal dan amalan hidup seharian. Apabila ulama’ dikaitkan dengan Islam ia berhubung rapat dengan Allah. Tidak cukup sekadar ada ilmu tetapi tidak takut kepada Allah SWT, begitu juga sebaliknya.
Ulama’ dikenali dengan ilmunya dan keteguhan pendiriannya. Mereka terpelihara daripada terjebak ke dalam perkara-perkara yang syubahat. Ulama’ dikenali dengan jihad, dakwah, pengorbanan dari segi waktu, harta benda, nyawa dan kesungguhan mereka di jalan Allah.
Ulama’ dikenali dengan ibadah dan khusyuk mereka kepada Allah. Ulama’ dikenali dengan jauhnya mereka dari keburukan dunia dan pujuk rayunya. Ulama’ dikenali dengan pengakuan oleh umat Islam dan jumhur-nya dari kalangan ahli hak.
Di antara perkara yang menunjukkan alimnya ulama’ dan kelebihannya ialah mengenai pengajiannya, fatwanya dan juga karangannya. Adapun pangkat dan jawatan atau yang seumpama dengannya, bukanlah dikira sebagai tanda yang menunjukkan kepada ilmunya. Ulama’ tidak ditentukan dan tidak dipilih melalui cara pengundian, tidak jugadengan cara penentuan jawatan. Sebagaimana di antara kalangan alim ulama’ dalam tarikh ummah terserlah dan nyata sebutannya (masyhur), menjadi imam atau pemimpin kepada ummah sedang dia (alim ulama’) tidak mengenai dan menjawat kedudukan atau memegang jawatan. Seumpama Imam Ahmad dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah antara contohnya.
Ini tidak bermaksud setiap orang yang mempunyai jawatan dalam ilmu pengetahuan bukannya dia seorang yang alim, bahkan yang dimaksudkan di sini ialah kedudukan dan jawatan bukanlah dikira sebagai tanda yang menunjukkan ke atas ilmu, oleh itu kita dapati di sana ada di antara kalangan para ulama’ yang dilantik oleh hakim(kerajaan) menjadi pemerintah, qodhi, mufti dan seumpama dengannya, bahkan kadang-kadang kita dapati pada zaman pemerintahan yang zalim tetap ada para qadhi yang adil dan para mufti yang boleh dipercayai.
Memiliki segulung ijazah bukanlah jambatan mendapat gelaran sebagai ulama’, apatah lagi jika tidak terpancar dari dirinya kehidupan ilmu. Ulama’ bukan sahaja ada ilmu malahan ia memberi sumbangan kepada masyarakat, perkembangan dakwah dan kemajuan negara. Mereka ada­lah yang dianugerahkan Allah dengan ilmu pengetahuan, kemahiran serta pengalaman yang meluas dan mendalami dalam hukum halal, hal ehwal Islam dan mampu melakukan istinbat hukum dengan sumber-sumber hukum yang betul dan asli; Al Quran dan As Sunnah, ijma' dan qias dan Iain-lain sumber yang muktabar, dengan lain perkataan ulama’ adalah pakar rujuk agama yang berkemampuan (dari segi ilmu) dan disiplinnya.
Golongan ini juga mampu memahami, mengolah serta menganalisa maqasid syariah. Mereka adalah ahlul zikri yang boleh menganalisis maratib agama, nyawa, jiwa, akal dan intelektual, harta, nasab dan keturunan. Mereka juga mempunyai keperibadian yang mulia, dan dispilin yang tinggi dalam kehidupan. Mereka tidak boleh berpura-pura atau double standard sebaliknya ikhlas dan jujur samaada dalam kehidupan mahupun dalam pandangan, idea serta nasihat mereka.
Ulama’ sebenar tidak bersikap berat sebelah tidak menggunakan ilmu untuk kepentingan diri dan kumpulan tertentu sahaja. Kedudukan mereka sebagai ulama’ adalah satu pengiktirafan masyarakat. Jadi golongan ulama’ bukanlah merupakan golongan yang sewenang-wenangnya menggelar diri mereka ulama’. Pengiktirafan masyarakat amat penting kerana ilmu, sahsiah dan cara hidup mereka diakui.
Ulama’ dahulu tidak mendapat apa-apa sijil tetapi mereka diiktiraf oleh masyarakat sebagai Al Allamah (seorang berilmu
dan memiliki pengetahuan ting­gi). Kualiti ilmu dan penyampaian ilmu membuahkan pengiktirafan masyarakat kepada mereka.
Dari semua kutipan dan penjelasan di atas menunjukkan bahawa ulama’ adalah merujuk kepada mereka yang mengetahui dan mendalami pengetahuan agama. Dengan pengetahuan ini menjadikan mereka patuh kepada hukum Allah. Amat takut kepada kemurkaan di dunia dan lebih-lebih lagi di akhirat.
Read more

Saturday, November 19, 2011

WABAK SEPANJANG JALAN - 'AL FUTUR'

بسم الله الرحمن الرحيم
salam ketenangan
EmailPrint
Al Futur mempunyai dua makna, (1) Terputus, terhenti sesudah berjalan, atau diam sesudah bergerak. dan; (2) Malas, menangguh, melengah-lengahkan sesudah bergerak aktif dan bersungguh-sungguh. Mengikut kamus Lisan al Arab, futur diolah seperti berikut : sesuatu itu lemah - Kepanasan mulai reda - dan bererti seseorang itu mulai lemah, yang membawa kefahaman : Berhenti sesudah bersungguh atau lembut sesudah keras. Maka di sini Al Futur memberikan maksud, suatu penyakit yang mungkin menimpa sebahagian daripada para - amilin - bahkan ada amilin yang sudah pun ditimpa penyakit ini.

Tahap al Futur yang paling rendah ialah malas, menangguh, melengah-lengahkan dan tahap yang paling tinggi ialah berhenti terus atau diam sesudah bergerak cergas secara berterusan.   

Firman Allah yang menyebut perihal Malaikat, maksudnya "Dan (ingatlah) segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik kepunyaan Allah jua, dan Malaikat yang berada di sisiNya tidak membesarkan diri dan tidak enggan (berhenti) daripada beribadat kepadaNya dan tidak pula mereka merasa penat dan letih" [al Anbiya’:19-20] 

Ayat di atas menunjukkan bahawa sesungguhnya para Malaikat sentiasa beribadat kepada Allah, membersihkan Allah daripada sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya, mereka solat dan mengingati Allah siang dan malam tidak merasa lemah, letih dan jemu.

FAKTOR BERLAKUNYA AL FUTUR 

Di antara sebab-sebab yang mungkin meresapnya al Futur dalam jiwa seseorang ialah disebabkan :-

1) SIKAP KETERLALUAN DALAM AGAMA

Sikap keterlaluan dan berlebih-lebihan yang melampaui batas dalam melakukan ketaatan kepada ALLAH atau menafikan hak kerehatan yang sepatutnya ke atas diri, atau menafikan semua kebaikan yang diperlukan oleh badan. Ini boleh membawa seseorang itu kepada keletihan dan kejemuan. Akhirnya meninggalkan perjuangannya bahkan kemungkinan besar akan mengheretnva memilih jalan lain sebalik jalan yang pernah diperjuangkannya. Maka amilin ini akan mengubah sikapnya itu dari sikap keterlaluan kepada sikap cuai dan lalai. Daripada ketegasan kepada sambil lewa. Ini disebabkan manusia mempunyai kemampuan dan keupayaan yang terhad, apabila ia bertindak melampaui keupayaannya, ia pasti akan berhadapan dengan al Futur. Maka ekoran dari itu ia menjadi malas dan tidak mampu meneruskan perjuangan.

Mungkin di sinilah rahsianya mengapa Islam memberi amaran keras dan melarang secara jelas agar tidak keterlaluan dan melampaui batas dalam sesuatu perkara.

Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud, "Jauhilah sikap keterlaluan dalam agama, maka sesungguhnya telah binasa mereka yang sebelum dari kamu disebabkan keterlaluan mereka dalam agama".

Rasulullah S.A.W juga pernah bersabda, "Binasalah orang-orang yang keterlaluan (bersikap melampau)". Baginda mengulanginya tiga kali". 

Kalimah Al Mutanatti'un ialah mereka yang melibatkan diri dalam agama secara keterlaluan, sama ada perkataan atau perbuatan. Mengenai hal ini Baginda Rasulullah S.A.W. bersabda sebagaimana maksudnya, "Janganlah kamu membebankan diri kamu, maka nanti ia akan menjadi bebanan ke atas kamu. Sesungguhnya mana-mana kaum yang membebankan diri mereka, maka sesungguhnya mereka telah dibebankan (hasil daripada perbuatan mereka), maka saki baki mereka (orang yang suka membebankan diri) boleh didapati di gereja-gereja dan rumah-rumah ibadat, mereka berpangkat pendita, kesemuanya adalah reka cipta mereka, bukan kami mewajibkan ke atas mereka".

Rasulullah S.A.W juga bersabda, maksudnya "Sesungguhnya agama itu adalah mudah dan tidak seseorangpun yang memberati agama melainkan ia dikalahkan (kecundang)".

Hadis Nabi S.A.W menceritakan : Ada tiga orang sahabat Rasulullah S.A.W mengunjungi isteri-isteri baginda bertanyakan amalan-amalan Rasulullah S.A.W. yang tidak diketahui umum. Apabila diberitahu (diceritakan) tentang ibadat Nabi S.A.W. mereka merasai apa yang mereka lakukan selama ini sangat sedikit, lantas mereka berkata: Di mana kita dengan Rasulullah S.A.W. pada hal Baginda diampunkan dosanya yang dahulu dan yang kemudian. Salah seorang berkata: Aku akan sembahyang sepanjang malam, seorang lagi berkata: Aku akan berpuasa  tanpa henti (sepanjang masa). Manakala yang seorang lagi berkata: Aku akan menjauhkan diri daripada wanita-wanita dan tidak akan berkahwin sama sekali. (setelah baginda mendapat berita keputusan mereka, maka Rasulullah S.A.W. datang berjumpa mereka lantas bersabda: "Kamukah yang berkata begini-begitu?. Demi Allah sesungguhnya akulah yang paling takut kepada Allah, jika dibandingkan dengan kamu dan akulah yang paling bertakwa kepada Allah lebih daripada kamu, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku bersembahyang dan aku tidur dan aku juga berkahwin dengan wanita-wanita. Sesiapa yang berpaling dari sunnahku dia bukan dari golonganku".

Dalam hadis yang lain diriwayatkan dari ‘Aishah R.A.H : Dari 'Aishah r.a.h ketika rumahnya didatangi seorang wanita  dari kabilah Asad, ketika itu Baginda Rasulullah S.A.W berada di rumahnya (‘Aishah). Maka Nabi S.A.W bertanya siapa perempuan ini? Lantas Aishah menjawab: Perempuan ini menceritakan tentang solatnya (banyak melakukan ibadah) maka Nabi S.A.W berkata : "Cukuplah kamu hendaklah lakukan apa yang kamu terdaya. Demi Allah sesungguhnya Allah Taala tidak jemu sehinggalah kamu jemu dan amalan agama yang disukai Allah selama mana ia dilakukan secara berterusan oleh pengamalnya".

Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud, "Lakukanlah amalan sekadar kamu mampu, maka sesungguhnya Allah tidak jemu sehingga kamu jemu sesungguhnya amalan yang disukai Allah ialah yang dilakukan secara berterusan meskipun sedikit".

Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa terdapat seorang bekas hamba perempuan Rasulullah S.A.W. yang berpuasa setiap hari dan ber-qiamullail setiap malam. Maka diceritakan halnya kepada Nabi S.A.W bahawa ia berpuasa setiap hari dan selalu melakukan solat malam. Lantaran itu Baginda Nabi S.A.W-pun bersabda yang bermaksud : "Sesungguhnya setiap amalan itu ada kecergasannya. Setiap kecergasannya ada perlahannya, maka sesiapa yang keperlahanannya mengikut sunnahku, ia telah mendapat pertunjuk dan sesiapa yang perlahannya lain daripada itu maka dia telah sesat".

2) MEMBAZIR DAN MELAMPAUI BATAS DALAM PERKARA HARUS

Pembaziran dan melampaui batasan di dalam mengambil makanan atau sesuatu yang diharuskan akan memberi kesan negatif kepada tubuh badan; seperti badan akan menjadi terlalu gemuk dan meningkatnya rangsangan syahwat. Ekoran dari itu dia akan merasa keberatan dan malas untuk bertindak walaupun dia tidak berhenti terus. Maka di sinilah rahsianya kenapa Allah S.W.T dan RasulNya melarang dan memberi amaran tentang pembaziran.

Allah S.W.T berfirman yang bermaksud, "Wahai anak Adam ambillah (pakaian) perhiasan kamu (tutup aurat) pada setiap kali memasuki masjid. (solat) Makan dan minumlah kamu asalkan jangan berlebihan.Sesungguhnya Allah S.W.T. tidak kasih atau suka orang-orang yang boros (orang yang melampaui)" [Al A'raaf:31].

Nabi S.A.W. bersabda yang bermaksud, "Tidak memenuhi oleh anak Adam sesuatu bekas yang lebih buruk daripada memenuhi uncang perutnya".

Ulama terdahulu telah mengenal pasti tentang kesan-kesai negatif ke atas mereka yang terlibat secara berleluasa dalam mengambil dan menggunakan perkara yang harus. Maka mereka begitu berwaspada terhadap perkara ini.

Sehubungan dengan ini 'Aishah R.A.H telah meriwayatkan, "Berlaku bala pertama ke atas umat ini selepas Nabinya (wafat) ialah kekenyangan. Sesungguhnya sesuatu kaum itu apabila perut mereka kenyang maka badan mereka akan gemuk, maka hati mereka akan lemah dan syahwat mereka akan memuncak".

Umar Al Khattab R.A turut menyatakan : "Berjaga-jagalah kamu dengan perut dalam mengambil makanan dan minuman. Maka sesungguhnya ia boleh membawa kerosakan pada badan dan ditimpa penyakit yang menyebabkan malas untuk melaksanakan solat. Hendaklah kamu bercermat (sederhana) dalam mengambil makanan atau minuman. Sesungguhnya ia akan memberi kebaikkan kepada tubuh badan dan menjauhkan daripada pembaziran. Dan sesungguhnya Allah Taala benci kepada pendita-pendita yang gemuk, dan sesungguhnya seorang itu tidak akan binasa sehinggalah nafsunya mengatasi agamanya".

Abu Sulaiman al Darani menyatakan : "Sesiapa yang sentiasa berada dalam kekenyangan ia akan ditimpa enam penyakit. Hilang kemanisan bermunajat, tidak mampu menghafaz hikmah dan kebaikan, hilang simpati terhadap makhluk lain. Ini disebabkan apabila seseorang itu kenyang ia beranggapan bahawa orang lain juga kenyang sepertinya, berkeberatan dan malas untuk melakukan ibadat, syahwatnya kian meningkat, seluruh orang mukmin berduyun-duyun ke masjid dan orang yang kenyang sentiasa berlegar-legar di tong sampah (membuang najis)". 

3) MUFARAQAH JEMAAH DAN MEMILIH UZLAH

Perjuangan memerlukan masa yang panjang, penuh dengan ranjau dan halangan. Perjuangan juga mempunyai peringkat-peringkat yang perlu ditempuhi. Kesemuanya ini memerlukan kepada pembaharuan. Apabila seseorang itu sentiasa bertindak atau berjuang bersama-sama jemaah maka ianya akan lebih aktif dan sentiasa meningkat keyakinan dan keazamannya. Sebaliknya apabila seseorang itu meninggalkan perjuangan bersama jamaah bahkan memilih jalan berjuang secara bersendirian, dia akan kehilangan teman yang dapat memberangsangkan, juga menggalak dan menasihatinya di samping memperingatkannya tentang Tuhannya. Lama-kelamaan ia akan lemah dan jemu. Akhirnya ia akan bertindak ala kadar walaupun ia tetap berhasrat bekerja untuk Islam.

Maka sebab itulah Islam sentiasa menegaskan agar kita sentiasa bersama jamaah, jangan berpecah belah. Bersatu dalam perjuangan.

Firman Allah S.W.T yang bermaksud : "Berpegang teguhlah kamu dengan tali Allah (agama) dan jangan kamu berpecah belah" [Ali Imran:103].

Firman Allah S.W.T yang bermaksud : "Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan" [al-Maidah:2].

Firman Allah S.W.T yang bermaksud : "Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan" [al Anfaal:46].

Firman Allah S.W.T yang bermaksud : "Janganlah kamu jadi seperti orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang berpecah-belah dan berselisih (dalam agama mereka) selepas datang kepada mereka keterangan yang jelas dan nyata. Dan mereka yang bersikap demikian akan beroleh azab seksa yang besar" [Ali Imran:105]

Nabi S.A.W bersabda yang bermaksud, "Hendaklah kamu bersama jamaah dan janganlah kamu berpecah. Sesungguhnya syaitan akan menghampiri orang yang berseorangan dan menjauhkan diri dari orang yang berdua. Sesiapa yang ingin berada di tengah syurga, maka la hendaklah sentiasa bersama jamaah".

Sabda Baginda lagi yang bermaksud, "Sesiapa yang meninggalkan jamaah walaupun sejengkal, maka ia telah melekangkan ikatan Islam dari lehernya". 

Aku memerintahkan kamu supaya taat dan berhijrah, berjihad dan bersama jamaah. Maka sesiapa yang meninggal jamaah dalam kadar sejengkal, maka matinya itu adalah mati jahiliyah.

Orang Mukmin yang bergaul dengan orang ramai dia bersabar dengan kejahatan mereka, ia memperolehi pahala yang lebih besar dari seseorang mukmin yang tidak bergaul dengan orang ramai dan tidak pula sabar dengan kejahatan mereka 

Perkara ini betul-betul difahami oleh umat yang terdahulu, maka oleh itu mereka sentiasa bersama jamaah dan menggalakkan agar terus bersama jamaah dan mempertegaskannya sebagai satu kewajipan.

Saiidina Ali R.A pernah mengatakan, "Kekeruhan yang terdapat dalam jamaah lebih baik daripada kejernihan yang terdapat pada diri perseorangan".

Abdullah bin Mubarak juga pernah bermadah : "Jika tidak kerana jamaah tidak ada jalan untuk kita yang lemah ini menjadi mangsa rompakan golongan yang memiliki kekuatan".

4) KURANG MENGINGATI MATI DAN HARI AKHIRAT

Bila seseorang itu lupa kepada mati dan hari akhirat ia boleh membawa kepada tumpulnya keazaman dan hasrat, juga akan menjadikannya lengah dalam melakukan tindakkan amal jamaah. Bahkan dalam setengah keadaan ia akan berhenti terus dari perjuangan. Maka di sinilah kita fahami hikmah kenapa Nabi S.A.W. menyuruh kita menziarahi kubur, walaupun pada awalnya Baginda melarang.

Nabi S.A.W. bersabda yang bermaksud, "Aku telah melarang kamu menziarah kubur, sekarang ziarahlah, semoga kamu mendapat pengajaran".

Nabi S.A.W. bersabda, "Aku telah melarang kamu dari menziarahi kubur, maka ziarahilah kubur sesungguhnya menziarah kubur menjadikan kamu zuhud didunia dan mengingatkan kamu tentang akhirat".

Sehubungan dengan ini kita juga dapat fahami hikmah di sebalik galakan Nabi S.A.W. supaya sentiasa mengingati mati.

Baginda S.A.W bersabda yang bermaksud, "Sesiapa daripada kamu yang berasa malu kepada Allah maka janganlah ia tidur malam, melainkan ia meletakkan ajalnya di depan dua matanya. Dan hendaklah memelihara perut dan anggota yang bersambung dengannya dan jagalah kepala dan telinganya. Dan dia hendaklah mengingati mati dan kehancuran yang akan berlaku dan dia hendaklah meninggalkan perhiasan dunia".

5) PENGABAIAN MELAKUKAN IBADAT HARIAN

Pengabaian melakukan ibadat harian seperti tidak melakukan solat fardhu disebabkan berjaga malam tanpa sebarang sebab yang munasabah selepas Isyak, juga mengabaikan solat rawatib,  qiamullail, sunat dhuha, atau membaca al Quran, berzikir dan tidak menghadiri sembahyang di masjid atau tidak menghadiri sembahyang berjamaah tanpa sebarang keuzuran. Kesemuanya ini akan meninggalkan kesan yang negatif. Tahap yang paling  rendah bagi kesan tadi ialah al Futur. Di mana ia akan malas dan begitu berat untuk menunaikan tugas atau dia terus berhenti dari menjalankan tugasnya.

Dalam hubungan ini Nabi S.A.W mengingatkan kita dengan sabdanya yang bermaksud : "Apabila salah seorang dari kamu tidur syaitan membuat tiga  ikatan dibahagian tengkok kamu dan setiap ikatan diukir dengan perkataan engkau mempunyai malam yang panjang tidurlah. Apabila ia terjaga dan menyebut Allah, maka sa tu ikatan itu akan terungkai, dan apabila ia berwudhu, ikatan kedua akan terungkai, dan apabila ia sembahyang maka ikatan ketiga terungkai. Maka paginya orang itu akan cergas dan ceria kalau tidak, ia akan berada dalam keadaan monyok dan malas".

6) MENGAMBIL MAKANAN YANG HARAM ATAU SYUBHAH

Perkara ini berlaku apabila seseorang itu membiarkan dirinya terlibat dengan makanan yang haram atau syubahah, yang berpunca dari pengabaian atau kurang bercermat di dalam memperolehi sumber hidup sehariannya. Atau hasil dari jenis kerja yang dilakukannya itu merupakan perkara syubahah. Atau berpunca dari sebab-sebab lain.Orang yang terlibat dengan cara yang demikian akan dibalas oleh Allah. Hukuman yang paling rendah diterima di dunia, ia akan bersifat malas untuk beribadat, atau tidak akan melakukan ibadat langsung, atau ia tidak lagi merasai sebarang kelazatan dan kemanisan untuk menyembah dan bermunajat kepada Allah. Maka mungkin di sinilah rahsianya Islam menyeru supaya sentiasa memakan makanan yang halal dan bercermat dalam perkara ini. Islam juga mengarahkan supaya menjauhkan diri dari mengambil makanan yang haram sekalipun makanan itu ditahap syubhahnya yang paling rendah.

Firman Allah S.W.T yang bermaksud : "Wahai manusia makanlah apa yang ada di dunia, makanan yang halal dan baik (bersih) janganlah kamu mengikuti jejak syaitan kerana sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata" [Al Baqarah:168]

Firman Allah S.W.T lagi yang bermaksud : "Maka hendaklah kamu makan apa yang Allah rezekikan yang dihalalkan kepada kamu (makanan) yang halal dan baik dan hendaklah kamu bersyukur ke atas nikmat Allah seandainya kamu menyembah Allah" [an Nahlu:114]

Firman Allah S.W.T lagi yang bermaksud : "Wahai Rasul makanlah makanan yang baik dan kerjakanlah amalan yang soleh, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu lakukan" [Al Mukmin:51]

Sabda Rasul S.A.W yang bermaksud : "Setiap tubuh badan yang dagingnya tumbuh hasil daripada makanan yang haram maka api neraka adalah lebih utama untuknya".

Sabda Rasul S.A.W lagi yang bermaksud : "Halal adalah jelas dan haram adalah jelas. Adapun di antara keduanya perkara yang syubahah dari perkara dosa maka sesiapa yang meninggalkan perkara syubahah maka ia akan lebih meninggalkan perkara yang ternyata haramnya. Dan sesiapa yang berani melakukan sesuatu yang diragui tentang dosa, maka ia akan di bimbangi terlibat perkara yang ternyata dosanya. Dan maksiat itu adalah garisan larangan Allah. Sesiapa yang berlegar di sekeliling garisan larangan, maka ia akan dibimbangi akan mencerobohinya".

Nabi S.A.W bersabda lagi yang bermaksud : "Tinggalkan apa yang meragui engkau kepada apa yang tidak meragui engkau".

Dalam hubungi ini Nabi S.A.W secara amalinya telah mendidik umat Islam dimana satu masa baginda terjumpa sebiji tamar di tengah jalan dan baginda enggan memakannya sambil Baginda bersabda yang bermaksud : "Kalaulah tidak aku bimbang bahawa tamar ini daripada tamar zakat sudah pasti aku memakannya".

Atas prinsip inilah umat Islam terdahulu telah berpegang dalam tindakan mereka. Mereka sentiasa memeriksa dan mengenal pasti tentang semua perkara yang berkaitan dengan penghidupan mereka yang melibatkan makanan, minuman, pakaian, kenderan dan lain-lain.

Apabila mereka mendapati sesuatu yang meragukan atau keraguannya di tahap yang paling rendah tahap syubhah, mereka akan terus meninggalkannya, kerana mereka bimbang terlibat dengan perkara yang haram.

Bila terlibat dengan perkara haram maka hati mereka akan rosak. Mereka akan terhalang dari melakukan ibadat atau amal ibadat yang dilakukan tidak akan diterima oleh Allah S.W.T.

Saiyidatuna Aishah R.A.H menceritakan : "Bapaku Abu Bakar al Siddiq r.a mempunyai seorang hamba yang telah menerima satu pemberian (upah tilik). Satu hari dia telah membawa makanan lalu Abu Bakar memakannya, lantas hamba tadi bertanya; Adakah tuan tahu benda yang tuan makan itu? Abu Bakar berkata: Apa dia? Maka hamba itu berkata: Semasa aku berada dalam jahiliah, aku telah melakukan nujum untuk seorang dan aku bukan tukang nujum yang baik tetapi aku menipunya. Kemudian dia terjumpa aku, dia telah memberi barang ini yang engkau makan. Maka terus Abu Bakar menjolok jarinya ke dalam mulut dan memuntahkan segala apa yang ada dalam perutnya"

7) PENUMPUAN AMILIN HANYA PADA SUDUT TERTENTU DALAM AJARAN ISLAM

Terdapat sebahagian amilin yang menekan sudut tertentu dari ajaran Islam dan menolak sebahagian yang lain, umpamanya dia lebih menumpukan perhatian kepada persoalan akidah semata-mata atau meninggalkan yang lain atau ia bagitu mengutamakan dengan perkara yang berkaitan syiar ta'abuddiyyah dengan menolak sebahagian yang lainya. Atau menumpukan usaha kepada amal khairat dan tata susila kemasyarakatan dengan mengenepikan sudut- sudut lain dari ajaran agama.

Mereka dan orang-orang seumpamanya lambat laun pasti bertembung dengan al Futur. Dan ini adalah perkara biasa berdasarkan bahawa hakikat agama Allah ini mencakupi semua aspek penghidupan. Apabila mana-mana orang memilih sebahagian saja dari ajaran Islam, maka tindakannya itu umpamakan seperti ia ingin menghayati sebahagian kehidupan bukan semua penghidupan. Apabila penghayatan Islam secara ini sampai kepada kemuncaknya, maka mereka sendiri akan tertanya-tanya apakah yang perlu dilakukan selepas itu. Maka ia tidak memperolehi jawapan yang dicari, kecuali al Futur. Sama ada ia akan lemah atau malas. Keadaan ini berlaku adalah berpunca dari sikap mereka yang tidak menghayati Islam dalam bentuk yang syumul dan menyeluruh.

Firman Allah S.W.T yang bermaksud : "Wahai orang orang yang beriman masuklah Islam secara keseluruhan dan jangan mengikut jejak syaitan sesungguhnya syaitan bagi kamu adalah musuh yang nyata" [al Baqarah:208]

Ayat di atas memberi arahan supaya dilaksanakan semua syariat Allah dan kesemua cabang iman dan jangan sama sekali mengikut kehendak syaitan kerana ianya mendorongkan kepada permusuhan dan perseteruan di samping ianya juga memesongkan manusia dari manhaj Allah sama ada secara keseluruhan atau sebahagiannya yang kesudahanya kamu akan ditimpa al Futur dan kecundang.

8) GAGAL MEMAHAMI SUNNATULLAH

Sebahagian dari amilin yang berkerja di jalan Allah begitu bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk mengubah suasana masyarakat secara drastik, sama ada yang berhubung dengan pemikiran, adat resam, akhlak, sistem masyarakat, politik, ekonomi dengan pendekatan dan cara yang tidak berpijak di alam nyata, tanpa memahami realiti yang dihadapi. Mereka melakukannya dengan begitu berani dan sanggup mengorbankan apa saja. Mereka tidak mengindahkan pengorbanan yang dilakukan sekali pun mahal dan mereka tidak gentar kehilangan nyawa sama ada dicari atau mencari tanpa membuat perhitungan dan penilaian ke atas kesan yang akan diperolehi. Bagi mereka apa yang penting ialah asalkan niat yang dilakukan kerana meninggikan kalimah Allah adalah sudah cukup untuk menjustifikasikan apa yang dilakukan tanpa mengambil kira tentang peraturan alam dan penghidupan. Adapun sunnatullah bagi alam dan penghidupan ianya perlu dilakukan sesuatu pekerjaan itu secara bertahap. Sunnatullah meletakkan kemenangan diberi kepada mereka yang paling bertaqwa dan kalau tidak yang bertaqwa kepada yang paling kuat. Dan setiap sesuatu itu telah ditentukan masa yang tidak mungkin didahulukan atau di kemudiankan. Apabila mereka berhadapan dengan realiti tindakan mereka itu tidak menepati dengan apa yang dicita dan diharapkam. Lantaran itu berlakulah al Futur dalam gerak kerja mereka sama ada dalam bentuk malas, atau melengah-lengahkan atau berhenti terus daripada melakukan kerja.

9) MENGABAIKAN HAK TUBUH BADAN

Kita dapati sebahagian dari amilin Islam mengorbankan tenaga, harta benda juga masa mereka dalam memberi khidmat kepada agama Islam. Mereka tidak mengambil kisah tentang kerehatan dan kesihatan diri. Sikap yang demikian walaupun ianya perlu dilakukan disebabkan bebanan dan tugas yang banyak serta kekurangan tenaga kerja, lama kelamaan mereka akan tidak mampu meneruskan kerja tadi kerana kelemahan tubuh badan mereka sendiri.

Kemungkinan di sini rahsianya kenapa Nabi S.A.W sentiasa menegaskan tentang memberi hak ke atas tubuh badan sekalipun terdapat berbagai alasan.

Nabi S.A.W bersabda yang bermaksud : "Sesungguhnya kepada Tuhan kamu hendaklah diberi hak dan sesungguhnya kepada diri kamu hendaklah diberi hak dan kepada keluarga kamu hendaklah diberi hak, maka berilah hak kepada mereka yang mempunyai haknya".

Dalam riwayat yang lain Nabi S.A.W bersabda : "Sesungguhnya kepada tubuh badan kamu hendaklah kamu memberi hak dan sesungguhnya pada mata kamu hendaklah kamu memberi hak dan sesungguhnya kepada isteri kamu hendaklah kamu memberi hak dan sesungguhnya pada tetamu kamu hendaklah memberikan haknya".

10) TIDAK BERSEDIA DALAM PERJUANGAN

Kita dapati sebahagian amilin melibatkan diri di dalam perjuangan. memulakan gerak langkah tanpa mengambil kira cabaran halangan yang akan dihadapi. Kadangkala halangan akan datang dari kalangan isteri, anak-anak dan keluarga dan godaan dunia, juga tekanan dan ujian dalam bentuk kesusahan, ugutan dan lain-lain. Apabila mereka tidak bersedia untuk menghadapi semuanya ini, maka berkemungkinan perkara tadi akan berlaku dalam pergerakan. Semasa bertembung dengan suasana yang demikian, mereka gagal mengatasinya, apatah lagi mereka tidak membuat perhitungan dari awal-awal lagi. Mereka sudah pasti akan patah di pertengahan jalan. Ekoran dari itu mulalah mereka tidak aktif, dan malas untuk turut serta di dalam amal jamaah dan yang lebih malang lagi, mereka akan meninggalkan perjuangan yang diceburinya selama ini.

Di sinilah rahsianya kenapa al Quran memberi amaran dan ingatan berkali-kali. Firman Allah S.W.T yang bermaksud : "Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya di kalangan isteri-isteri kamu dan anak-anak kamu adalah musuh kamu maka beringatlah kamu dengan mereka dan sekiranya kamu mengampun dan memaafkan mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-pinak kamu adalah fitnah, hanya kepada Allah (kamu perolehi) sebesar-besar ganjaran" [al Taghabun:14-15]

Firman Allah S.W.T lagi : "Ketahuilah harta kamu dan anak-anak kamu adalah fitnah" [Al Anfaal:28]

"Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini. Sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (Mukmin)" [Ali Imran:179]

Firman Allah lagi yang bermaksud : "Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan - kami telah beriman - sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang yang benar beriman dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta" [al Ankabut: 1 -3]

"Dan demi sesungguhnya kami tetap menguji  dari kalangan kamu sehingga ternyata pengetahuan kami tentang adanya orang yang berjuang dari kalangan kamu dan orang yang bersabar dan sehingga kami dapat menyaksikan berita-berita tentang kamu" [Muhammad:31]

11) MENDAMPINGI GOLONGAN YANG TIDAK BERJIWA BESAR

Kadangkala para amilin mendampingi golongan yang masyhur (popular) dan ternama. Apabila ia mendampingi dan sentiasa bersama mereka, ia akan melihat betapa kosongnya penghidupan golongan ini dalam konteks perjuangan. Mereka boleh diibaratkan seperti gendang kosong. Sekiranya ia terus bersama mereka sudah pasti ia akan dijangkiti penyakit golongan tadi seperti mana orang sihat dijangkiti penyakit kurap. Dalam ertikata yang lain mereka akan menjadi al Futur.

Mungkin di sinilah rahsia kenapa Nabi S.A.W menekankan betapa perlunya memilih teman yang baik.

Sabda Rasulullah S.A.W : "Seseorang itu mengikut deen (cara hidup) sahabatnya maka hendaklah salah seorang dari kamu melihat dengan siapa ia bersahabat".

Sabda Baginda lagi : "Bandingan mereka yang bergaul dengan orang yang baik dan  bergaul dengan orang yang jahat adalah seperti mereka yang mendampingi penjual minyak wangi dan mendampingi tukang besi. Mendampingi penjual minyak wangi kamu mungkin dihadihkan minyak wangi atau kamu akan membeli darinya atau sekurang- kurang kamu mendapat baunya. Mendampingi tukang  besi mungkin percikan api akan membakar pakaian kamu atau sekurang kurangnya kamu akan menghidu bau hangit dari bakaran besi". 

12) SAMBIL LEWA MENJALANKAN TUGAS

Terdapat ramai di kalangan amilin sama ada di peringkat individu atau di peringkat organisasi secara keseluruhannya bila menjalankan tugas untuk agama Allah, mereka lakukanya secara sambil lewa, di mana mereka mengenepikan manhaj amal dan tidak bersistematik.

Kadangkala mereka memberi keutamaan kepada perkara-perkara yang kurang penting ke atas perkara pokok yang lebih penting dan utama. Padahal perkara pokok sepatutnya diutamakan supaya ia dengan itu agama Allah dapat ditegak dan didaulatkan. Sikap sambil lewa ini akan melambatkan kerja-kerja kita bahkan kita terpaksa menanggung bebanan dan pengorbanan yang banyak. Keadaan yang timbul hasil dari sikap di atas kebiasanya akan menjadikan seseorang itu malas dan terhenti (al Futur) dari meneruskan kerja jama'ie, kecualilah dengan kehendak dan pertolongan Allah untuk mereka terus bergerak.

Di sini bolehlah kita fahami tentang hikmah dan rahsia disebalik sabda Nabi S.A.W dalam wasiat baginda kepada Muaz bin Jabal semasa baginda mengutuskannya ke Yaman, di antara sabda Baginda ialah : "Sesungguhnya engkau akan pergi ke satu kaum yang terdiri dari ahli kitab. Maka serulah mereka kepada syahadah, bahawa tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasul Allah. Sekiranya mereka mentaati engkau (melafazkan syahadah) maka terangkanlah kepada mereka bahawa Allah memfardhukan zakat ke atas mereka di mana ianya diambil dari orang kaya dikalangan mereka untuk diagihkan kepada golongan fakir dikalangan mereka, sekiranya mereka mentaati engkau (mengeluarkan zakat) maka hendaklah engkau mengelakkan diri dari hanya mengambil harta yang mereka sayangi, dan takutlah kamu dengan doa orang yang dizalimi. Maka sesungguhnya tidak ada dinding di antara doa orang yang dizalimi dengan Allah".

Hadis di atas merupakan kaedah pokok di dalam manhaj perjuangan juga merupakan bentuk tatacara dan kualiti amal jama'ie yang perlu dihayati.

13) TERLIBAT DALAM PERKARA MAKSIAT

Mana-mana amilin yang terlibat dengan perkara di atas sudah pasti ianya akan berakhir dengan terhenti (Al Futur) dari meneruskan perjuangan. Firman Allah yang bermaksud  :"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri. Dan Allah memaafkan sebahagian besar dari kesalahan-kesalahan kamu" [As Syura:30]

Amaran tentang perkara ini dapat difahami oleh Hadith berikut yang bermaksud : "Hendaklah kamu berjaga-jaga dari melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya dosa-dosa kecil akan berlonggok di atas seseorang hingga ia membinasakannya. Sesungguhnya Rasulullah S.A.W membuat bandingan terhadap mereka yang melakukan dosa-dosa kecil seperti mana satu kaum yang singgah di tanah lapang (kawasan Badawi) maka mereka menghadiri jamuan yang diadakan. Maka ada beberapa orang dari kalangan mereka keluar mencari kayu dan membawanya kembali. Kayu -kayu tadi dikumpul menjadi longgokan yang besar lalu mereka menyalakan api dan memasakkan makanan apa yang mereka panggang padanya".

Nabi S.A.W bersabda lagi yang bermaksud : "Seseorang Mukmin apabila melakukan dosa maka berlakulah satu titik hitam dalam hatinya. Apabila ia bertaubat dan meninggalkan dosa serta beristigfar, maka bersihlah hatinya. Dan sebaliknya jika ia menambahkan lagi dosa, maka akan bertambahlah titik hitam sehingga meliputi hatinya".

Maka yang demikian itu dikatakan al Raan seperti yang difirmankan Allah S.W.T yang bermaksud : "Sebenarnya ayat-ayat itu tidak ada cacatnya bahkan mata hati mereka diselaputi kekotoran (dosa) dengan sebab perlakuan (kufur dan maksiat) yang mereka kerjakan". [al Mutaffifin:14]

- Terjemahan dari kitab Afat 'ala Toriq karangan Dr. Sayid Mohamad Nuh
Read more